PTA Kepulauan Bangka Belitung
Anda disini:  Beranda
Dialog Para Pemikir Hukum dan Keadilan Australia-Pakistan di Sydney PDF Print E-mail
Written by oval   
Kamis, 01 Desember 2011

Peradilan Agama Mendapat Sambutan Meriah

 

Dirjen Badilag Wahyu Widiana sedang menyampaikan pidato kunci pada Dialog Para Pemikir Hukum dan Keadilan Australia-Pakistan, di Sydney, 28 November 2011, setelah jamuan makan malam.

Sydney, Badilag.net |28-11-2011|

“… as champions within the judicial system of social justice and access to justice reform, Indonesia’s Religious Courts now stand as models for judicial reform in Indonesia… “. (p xx).  “From this perspective, the Religious Court can be seen as one of the most successful of Indonesia’s judicial institutions. This is in some senses, ironic, as these courts have also historically been neglected by the state …” (p.14).

Kalimat-kalimat di atas tertulis pada buku “Courting Reform: Indonesia’s Islamic Courts and Justice for the Poor”, karya Cate Sumner dan Tim Lindsey. Keduanya merupakan tokoh di kalangan peneliti dan akademis di Australia yang sangat mengenal peradilan di Indonesia. Buku itu diterbitkan oleh Lowy Institute for International Policy, Sidney, dan diluncurkan bulan Desember tahun 2010.

Buku ini pula yang dijelaskan oleh Anthony Bubalo, Direktur Asia Barat Lowy Institute, saat mengantarkan presentasi tunggal yang disampaikan oleh Dirjen Badilag Wahyu Widiana, di hadapan para pemikir hukum dan keadilan dari Australia dan Pakistan, tadi malam (28/11), di sebuah restoran di kawasan Darling Harbour, Sydney, Australia. Buku itu juga dibagikan kepada seluruh peserta pertemuan.

Hadir dalam pertemuan itu lebih dari 30 orang, termasuk Chief Justice Family Court of Australia (FCoA) Hon. Diana Bryant, Leisha Lister dari FCoA, mantan Chief Justice Federal Court of Australia (FCA), Hon Michael  Black, beberapa hakim dan CEO FCA, Ass. Dirjen AusAID, 5 orang hakim dan administrator pengadilan Pakistan, dan para tokoh di bidang hukum dan peradilan Australia.

Dirjen Badilag Wahyu Widiana yang didampingi oleh Dr. Hasbi Hasan dari Mahkamah Agung, diundang dan difasilitasi oleh Lowy Institute untuk mempresentasikan pengalaman melaksanakan reformasi di lingkungan peradilan agama, yang dianggap berhasil oleh para penulis buku Courting Reform.

Selain di Sydney, Dirjen Badilag juga diundang untuk bicara di Law School, the University of Melbourne, di Melbourne, dan di suatu pertemuan di Canberra dengan topik yang sama. Di Canberra, pertemuan itu dijadwalkan untuk dihadiri oleh beberapa instansi seperti AusAID, Department of Foreign Affairs and Trade, Office of National Assessments, Ombudsman, FCoA dan Attorney-Generals Department.

 

Foto bersama setelah selesai acara. Dari kiri: Hon. Michael Black, mantan CJ FCA, Hon. Diana Bryant, CJ FCoA, Dirjen Badilag, Anthony Bubalo dari Lowy Institute dan Cate Sumner, penulis Buku Courting Reform.
Sambutan Meriah.

Para peserta dialog di Sydney nampak tertarik dengan penjelasan dari Anthony Bubalo, pejabat Lowy Institute, dan “keynote address” dari Dirjen Badilag tentang ceritera reformasi peradilan yang dilaksanakan di lingkungan Peradilan Agama.

Mereka tercengang sebab dalam waktu relatif singkat sejak rombongan Peradilan Agama melakukan pelatihan tentang Teknologi Informasi di FCoA, 5 tahun lalu, kini Peradilan Agama telah jauh melangkah dalam melaksanakan reformasi dan peningkatan akses terhadap peradilan, terutama bagi wanita, orang miskin dan orang-orang yang berada pada daerah-daerah terpencil.

“Yang saya rasakan, perkembangan yang besar yang dilakukan Peradilan Agama, adalah karena pemanfaatan TI untuk kepentingan pelayanan publik dan konsolidasi Badilag dengan Pengadilan Agama di seluruh Indonesia”, kata Dirjen.

Dirjen menambahkan bahwa perubahan sikap, mindset dan paradigm di kalangan peradilan agama juga merupakan pendorong keberhasilan.  “Upaya untuk melakukan perubahan itu terus-menerus dilakukan dengan memafaatkan website, di samping pertemuan-pertemuan, pelatihan dan dialog”, tegas Dirjen.

“Peningkatan integritas para hakim dan seluruh aparat peradilan agama juga merupakan prioritas bagi Badilag, dengan selalu melakukan bimbingan dan monitoring secara langsung atau secara estapet melalui pengadilan tingkat banding”, kata Dirjen menjawab salah satu peserta yang menanyakan keterkaitan peradilan agama dengan masalah korupsi.

Ada sekitar 6 orang penanya, malah salah satunya bertanya dua kali. Dialog ini nampak hidup dan menarik sebab Cate Sumner sebagai penulis “Courting Reform” ikut hadir dan memberikan penjelasan tentang peran Badilag dalam reformasi di Indonesia.

Dalam ramah tamah sebelum dan sambil  makan malam, menjelang presentasi, Hon. Diana Bryant, Liesha Lister dan Cate Sumner nampak banyak memberikan informasi tentang peradilan agama dan Mahkamah Agung. Di antara yang hadir juga banyak yang telah mengetahui tentang perkembangan  Peradilan Agama dan peradilan secara umum di Indonesia. Para pejabat FCA dan  AusAIDpun banyak yang hadir. Mereka pada umumnya telah mengenal Peradilan Agama. Jadi, dialog itu cukup hidup.

Di akhir dialog, Cate Sumner dan Anthony Bubalo berceritera sedikit panjang, menyampaikan semacam kesimpulan. Para peserta memberikan aplus yang meriah, bahkan setelah selesaipun nampak banyak tokoh dan peserta bersalaman dan mengucapkan selamat kepada Dirjen.

“Ini adalah penghargaan yang luar biasa bagi Peradilan Agama”, kata Dirjen kepada Badilag.net.

Keberhasilan Kerjasama Antara Australia dan Indonesia.

Dalam presentasinya, dan juga dalam memberi tanggapan para penanya yang menyampaikan apresiasi atas keberhasilan reformasi di lingkungan peradilan agama, Dirjen sering kali menyatakan bahwa kerjasama antara pihak Australia dan Indonesia memainkan peranan yang besar dalam keberhasilan itu.

Atas pertanyaan dan komentar dari salah seorang hakim FCA, Dirjen juga menyatakan bahwa MoU antara MA-RI dengan FCA dan FCoA sangat memotivasi Peradilan Agama untuk bekerja lebih baik dan melakukan kerjasama.

“Kami banyak diuntungkan dengan kerja sama itu. Pada dasarnya, Peradilan Agama juga banyak mengikuti kegiatan yang diselenggarakan oleh FCA, seperti pelatihan Change Management dan Women Leadership. Tapi karena ‘core’ yang sama antara Peradilan Agama dengan FCoA, maka kegiatan dengan FCoA jauh lebih banyak”, kata Dirjen.

Di akhir dialog Dirjen mengharapkan agar kerjasama ini dapat terus berlanjut dan ditingkatkan. Sebab sudah sangat dirasakan manfaat dari kerjasama ini. “Masih banyak hal yang perlu dikerjasamakan, terutama dalah hal peningkatan kualitas SDM peradilan”, katanya menutup pembicaraannya dalam dialog itu.
 

Add comment


Security code
Refresh

< Prev   Next >
Padli Ramli, SH.

Padli Ramli, SH.
Panitera/Sekretaris PA Pangkalpinang

Foto Hakim/Pegawai

Jam Sistem

Tanggal Hijriah


Pengaduan Online

Link Peradilan

link MA


link Putusan MA


link Pembaruan MA


link BADILAG

Kata Kata Mutiara

Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa”.(QS. Al-Ma`idah : 8).

 

Foto Kegiatan

07pahmudin.jpg.jpg