PTA Kepulauan Bangka Belitung
Anda disini:  Beranda

Di Kejaksaan Agung PDF Print E-mail
Written by oval   
Sabtu, 14 Januari 2012

Di Kejaksaan Agung, Dirjen Badilag Membeber Rahasia Dapurnya

Jakarta l Badilag.net

“Kami juga sudah melakukan perubahan-perubahan. Tetapi mengapa yang kami lakukan ini belum menggema? Jangankan di luar, di dalam pun belum. Jadi, faktor sebenarnya apa sih?”

Yang mengucapkan kata-kata itu adalah Ibu Aryani. Sehari-hari ia mengepalai Bagian Umum Biro Kepegawaian Kejaksaan Agung. Yang ditodongnya untuk memberikan jawaban adalah Pak Wahyu—sapaan akrab Dirjen Badilag Mahkamah Agung Wahyu Widiana.

Rabu siang (11/1/2011), Dirjen Badilag memang diberi kehormatan untuk menjadi pembicara dalam Forum Diskusi Pimpinan Biro Kepegawaian Kejaksaan Agung. Yang hadir dalam diskusi yang diprakarsai Changes for Justice Project USAID itu puluhan. Ibu Aryani adalah salah satunya.

“Berdasarkan pengalaman kami,” kata Pak Wahyu, “yang terpenting adalah kita harus mampu memberikan kebanggaan.”

Teknisnya, menurut Pak Wahyu, adalah mempublikasikan pelbagai prestasi atau pencapaian-pencapaian yang kita raih. “Dengan begitu, bawahan kita akan bangga terhadap institusinya. Mereka pun memiliki rasa memiliki dan tanggung jawab yang tinggi. Dampaknya, mereka semangat dan kinerja semakin baik.”

Sisi lainnya, Pak Wahyu menambahkan, bila ada anggota organisasi yang tidak sesuai dengan image yang sudah kadung melekat kuat, mereka akan malu.

Publikasi tentu memerlukan media. Ditjen Badilag Mahkamah Agung memiliki badilag.net. Media online ini betul-betul dimanfaatkan untuk berbagai keperluan, mulai dari surat-menyurat hingga memberitakan hal-hal positif yang dapat memotivasi warga peradilan agama yang tersebar di 359 pengadilan tingkat pertama dan 29 pengadilan tingkat banding.

“Ini contohnya. Pada tahun baru 2012 kami menerima kado istimewa. Peradilan agama diulas di jurnal internasional yang terbit di Amerika Serikat. Hal-hal seperti ini kami tulis di situs dan dampaknya luar biasa,” kata Pak Wahyu, sembari mengarahkan audiens untuk melihat sebuah berita badilag.net di layar presentasi.

“Lalu bagaimana memberikan penghargaan kepada pegawai? Selama ini yang kami lakukan terbatas pada penghargaan kepada unit kerja, tidak sampai kepada individu-individu,” Ibu Aryani menambah pertanyaannya.

Pak Wahyu, yang siang itu menyajikan materi berjudul “Peningkatan Kinerja Organisasi Melalui Penghargaan dan Insentif”, menjawab taktis: “Kata kuncinya adalah perhatian.”

Remunerasi atau tunjangan khusus, menurut Pak Wahyu, adalah insentif yang diberikan negara yang sangat berpengaruh terhadap kinerja. Tapi remunerasi saja tidak cukup. Diperlukan juga perhatian yang sifatnya immaterial, dari atas ke bawah, baik dalam situasi formal maupun nonformal.

Di peradilan agama, individu-individu yang memiliki prestasi atau kemampuan menonjol akan mendapat perhatian lebih. Pak Wahyu mengungkapkan, perhatian itu di antaranya diwujudkan dengan cara menarik mereka ke pusat, dilibatkan dalam tim khusus, atau difasilitasi untuk melanjutkan belajar ke luar negeri.

“Kami bahkan pernah mengajak staf yang masih honorer ke Australia. Staf ini punya kelebihan khusus di bidang IT,” tuturnya.

Mengenai penghargaan, Pak Wahyu berkisah, saat ini peradilan agama sedang menggelar religious courts reform awards. Dengan nada berpromosi, Pak Wahyu merinci satu per satu penghargaan itu, mulai dari penghargaan di bidang pelayanan publik dan meja informasi hingga penghargaan di bidang justice for all atau bantuan hukum yang terdiri dari sidang keliling, prodeo dan posbakum.

“Kami menggelar award-award itu tanpa anggaran khusus. Ya, kami lakukan bersama-sama saat melakukan pembinaan atau monitoring. Jadi, kami ini bonek alias bondo nekad,” tandas Pak Wahyu. Para anggota korps adyaksa yang hadir dalam pertemuan itu pun mengangguk-angguk.

Yang terpenting, ia melanjutkan, bukan wujud hadiah yang diberikan, melainkan perhatian pimpinan terhadap bawahannya. “Kami hanya memberikan sertifikat dan hadiah ala kadarnya, tapi kami berikan pada momen yang spesial. Mereka senang luar biasa. Sertifikat itu lalu dipajang di ruang tamu pengadilan. Mereka bangga,” ujarnya.

Pertanyaan lainnya datang dari M Dhofir. Sebagai pimpinan, rupanya rupanya kerap menghadapi situasi dilematis. “Kalau kita terlalu jauh dengan bawahan, kita akan kekurangan informasi. Kalau kita terlalu dekat dengan bawahan, kadang-kadang mereka suka ngelunjak. Bagaimana menurut Bapak?” ungkapnya.

Ditanya begitu, Pak Wahyu menjawab, “Kuncinya adalah keteladanan. Pimpinan tak perlu jaim atau jaga imej. Kita harus dekat dengan bawahan, tapi tetap proporsional. Kalau kita bisa menjadi teladan, bawahan nggak akan ngelunjak.”

 

Add comment


Security code
Refresh

< Prev   Next >
Advertisement

Padli Ramli, SH.

Padli Ramli, SH.
Panitera/Sekretaris PA Pangkalpinang

Foto Hakim/Pegawai

Jam Sistem

Tanggal Hijriah


Pengaduan Online

Link Peradilan

link MA


link Putusan MA


link Pembaruan MA


link BADILAG

Kata Kata Mutiara

Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa”.(QS. Al-Ma`idah : 8).

 

Foto Kegiatan

10pansek m tarmizi r.jpg