Dirjen Badilag MA RI: "Alumni Fakultas Syariah di Sudan berpeluang untuk ikut ujian Calon Hakim"
 Delegasi MA RI dengan Mayarakat Indonesia di Sudan Khartoum | badilag.net Disela-sela padatnya kegiatan yang telah diagendakan oleh pihak MA Republik Sudan, kunjungan Delegasi MA RI ke Sudan yang utamanya dimaksudkan untuk menjalin kerjasama yang lebih intensif dengan pihak Sudan di bidang peradilan, juga diisi dengan berbagai kegiatan tambahan yang diharapkan dapat mengoptimalkan keberadaan Delegasi di Sudan yang terbilang singkat. Diantara kegiatan tambahan yang diprakarsai oleh Kedutaan Besar Republik Indonesia di Khartoum, Sudan adalah tatap muka dengan masyarakat pekerja dan mahasiswa Indonesia yang sedang mengais rizki dan menimba ilmu di Negeri Dua Nil ini. Kegiatan yang digagas oleh Bidang Pendidikan, Sosial dan Budaya KBRI Khartoum ini mengundang perwakilan dari berbagai unsur masyarakat Indonesia, yang terdiri dari keluarga besar KBRI, para pekerja professional Indonesia di berbagai perusahaan seperti Pertamina, Ericson, Telkom, United Nations dan lain-lain serta mahasiswa.
Apresiasi KBRI Khartoum
Dalam sambutannya, Kuasa Usaha Ad Interim/KUAI sekaligus Kepala Operasioal Perkantoran KBRI Khartoum, Gatot Amrih Djemirin yang ditugaskan menggantikan Duta Besar RI untuk Republik Sudan, Dr. Sujatmiko yang saat itu sedang berada di tanah air untuk keperluan dinas sangat mengapresiasi atas kesediaan Delegasi MA RI untuk bertatap muka dengan warga negara Indonesia di Sudan. Kerinduan untuk dapat berbincang dan bertukar informasi seputar perkembangan Indonesia, khususnya MA RI akan dapat terobati dengan adanya forum ini. "Pertemuan ini akan dapat menjadi obat rindu bagi WNI di Sudan untuk mendapatkan oleh-oleh informasi yang dibawa oleh Bapak-Bapak dari Indonesia" harap gatot di sela-sela sambutannya.  Delegasi MA RI dengan Ibu Dubes RI di Khartoum dan beberapa Home Staf KBRI Khartoum Kegiatan tatap muka yang diadakan di Ambassador Residence atau Wisma Duta Besar dengan para delegasi yang datang dari Indonesia merupakan salah satu kegiatan rutin yang dilakukan oleh KBRI Khartoum, sebagai sarana untuk pembinaan dan silaturahmi antar warga negara Indonesia. Acara serupa juga pernah dilakukan oleh KBRI dengan delegasi-delegasi lain termasuk delegasi MA RI yang datang sebelumnya.
Keunggulan Sudan
Drs. H. Rum Nessa, SH, MH, Sekretaris MA RI sebagai pimpinan delegasi dalam prakatanya menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada pihak KBRI Khartoum yang banyak membantu dan mendukung suksesnya program kunjungan delegasi MA RI ke Sudan. Tidak hanya untuk kali ini saja, bantuan KBRI Khartoum juga sudah dilakukan sejak pertama kali MA RI mulai menjalin hubunan kerjasama di bidang peradilan dengan Sudan. "Kami mengucapkan terimakasih yang setinggi-tingginya atas bantuan dan dukungan yang diberikan KBRI Khartoum melalui aparatnya dalam mensukseskan misi delegasi untuk mendapatkan hal-hal positif yang ada di Sudan" ungkap Rum Nessa.
Rum Nessa banyak menjelaskan tentang hal-hal baru dalam sistem peradilan di Indonesia, khususnya paska satu atap di bawah Mahkamah Agung pada tahun 2004. Selain itu, dijelaskan juga tentang kewenangan-kewenangan baru yang diterima oleh pengadilan melalui amanat Undang-Undang seperti penyelesaian perkara ekonomi syariah yang saat ini mulai bermunculan di beberapa kota di Indonesia. Khusus untuk masalah Ekonomi Syariah, poin inilah diantara hal-hal penting yang menjadi konsentrasi delegasi untuk dikerjasamakan dengan Sudan.
Sebagaimana diketahui, Sudan merupakan salah satu negara yang saat ini telah berhasil menerapkan sistem ekonomi syariah secara nasional sebagai alternative dari sistem konvensional yang pernah berlaku. Tak hanya berhenti pada level praktek perekonomian nasional saja, lebih dari itu, peraturan perundangan yang berlaku secara nasional pun telah mendukung berbagai ekses yang dimungkinkan muncul dalam pelaksanaan bisnis niaga syariah ini. "Sudan sangat maju di bidang ekonomi syariah dan pranata hukum yang mengaturnya, diantaranya karena itulah MA RI berupaya untuk menjalin kerjasama dengan Sudan" papar Rum Nessa.
Peningkatan Kualitas SDM Peradilan
Upaya untuk terus meningkatkan SDM peradilan menjadi konsentrasi pimpinan MA RI. Kunjungan delegasi MA RI ke Sudan kali ini, juga tidak lepas dari upaya terus menerus yang dilakukan oleh pimpinan MA RI untuk meningkatkan kualitas SDM. Salah satu poin penting dari kerjasama yang ingin dijalin dengan Sudan adalah terselenggaranya program pelatihan bersama bagi para hakim di berbagai bidang peradilan kontemporer, mulai dari masalah-masalah materiil, formil maupun administrasi. Pelatihan merupakan salah satu sarana pengembangan kemampuan dan kualitas SDM peradilan.  Masyarakat Indonesia mencermati penyampaian dari Drs. H. Rum Nessa dan Drs. H. Wahyu Widiana, MA Di depan audiens yang mayoritas adalah mahasiswa, Drs. H. Wahyu Widiana, Dirjen Badilag MA RI mendorong para mahasiswa Fakultas Hukum dan Syariah yang telah selesai menimba ilmu di Sudan untuk turut berpartisipasi dalam membangun peradilan di Indonesia. "Silahkan bagi para alumni Fakultas Hukum dan Syariah yang telah selesai menimba ilmu di Sudan untuk ikut mendaftar sebagai calon hakim di pengadilan". "Saya yakin, dengan turut bergabungnya para alumni dari Fakultas Hukum dan Syariah di berbagai perguruan tinggi di negara Timur Tengah akan dapat memberikan kontribusi positif untuk kemajuan peradilan di Indonesia" jelas Wahyu Widiana pada acara yang sama.
Berdasarkan data yang ada di MA RI, hingga saat ini, sudah ada puluhan alumni Fakultas Hukum dan Syariah dari berbagai peguruan tinggi di Timur Tengah yang telah berhasil lolos dalam seleksi penerimaan calon hakim, bahkan tidak sedikit dari mereka yang sudah menerima SK pengangkatan dari Presiden sebagai hakim dan berhak untuk bersidang di pengadilan. Secara khusus, Ditjen Badan Peradilan Agama MA RI memanfaatkan keberadaan para alumni Timur Tengah ini untuk mendorong penigkatan kemampuan bahasa asing para aparat peradilan khususnya bahasa Arab melalui forum-forum diskusi yang dilakukan dengan bahasa Arab.
"Kami di Ditjen Badilag MA RI secara rutin menyelenggarakan diskusi-diskusi hukum dan peradilan bagi para hakim dan aparat pengadilan dengan menggunakan bahasa asing termasuk Arab, Hal ini dilakukan untuk mendorong terciptanya SDM-SDM berkualitas yang pada akhirnya diharapkan dapat menunjang kinerja pengadilan", demikian Wahyu Widiana menjelaskan. "Sejak tahun 2006, mulai banyak para alumni Fakultas Hukum dan Syariah dari berbagai perguruan tinggi di Timur Tengah yang mendaftarkan diri dalam pencalonan sebagai hakim di pengadilan", tambah Rum Nessa.
Antusiasme Tinggi WNI di Sudan  Masyarakat Indonesia memanfaatkan forum dialog untuk mengungkapkan berbagai pertanyaan dan pandangannya Dalam sesi tanya jawab yang digelar setelah usai penyampaian kata pembuka dari para delegasi MA RI, banyak dari WNI, baik professional maupun mahasiswa mengajukan berbagai pertanyaan dan tanggapan. Isu-isu media tenang penegakan hukum dan peluang untuk turut mengabdikan ilmu di Mahkamah Agung RI ramai menjadi bahan pembicaraan dalam dialog tersebut. "Alumni Fakultas Syariah di Sudan berpeluang untuk ikut ujian calon Hakim di Indonesia", kata Wahyu Widiana menutup pembicaraan. (berlanjut: 3-3/NS) |