|
HAKIM AGUNG SYAMSUL MAARIF |
|
Written by ovaL
|
|
Selasa, 15 Mei 2012 |
|
“ PELAYANAN PUBLIK TIDAK MUDAH, TAPI KITA HARUS BISA ! “ SURABAYA – HUMAS : “ Usai Acara Pembukaan Kegiatan Bimbingan Teknis Kehumasan pada 4 ( Empat) Lingkungan Peradilan Untuk Wilayah Propinsi Jawa Timur, selasa pagi, 15 mei 2012 di Hotel Empire Palace, Bimbingan teknis kehumasan memasuki sesi pemberian materi. Hakim Agung , Syamsul maarif, SH , LLM, Ph.d sebagai Narasumber pembuka dalam Bimbingan Teknis kehumasan menyampaikan dalam materinya mengenai Sistem Informasi Peradilan bahwa komit terhadap Pelayanan Publik itu memang tidak mudah untuk dilakukan, tetapi kita harus bisa. Petugas informasi adalah first impression dari sebuah instansi, sehingga untuk menjadi petugas informasi tidak hanya cakap tetapi juga harus dibekali pelatihan sehingga dapat memberikan kesan yang baik kepada masyarakat. Informasi kini sudah dapat di akses melalui website, papan informasi yang tersedia di pengadilan, dan juga melalui permohonan langsung : prosedur biasa dan prosedur khusus. Sedangkan Emilia Bassar, S. Sos., M. Si selaku Narasumber kedua, menjelaskan dalam materi nya mengenai Hakim sebagai Humas dan Jubir bahwa kunci sukses menjadi humas adalah komunikasi. Seorang Humas harus mengetahui bagaimana berkomunikasi dengan masyarakat sekitar, selain itu, kredibilitas juga dipandang sangat penting karena seorang humas harus bisa menjadi corong dari instansinya baik di Peradilan maupun di Mahkamah Agung. Bimbingan Tekhnis Kehumasan diikuti oleh para hakim dari 4 lingkungan peradilan yang berjumlah 78 peserta dan dilanjutkan dengan diskusi serta Tanya seputar Pelayanan Publik dan Hakim Sebagai Humas dan Jubir.”
|
|
|
Written by ovaL
|
|
Selasa, 15 Mei 2012 |
Soal Gaji Hakim, MA Bentuk Tim Kecil Perumus KesejahteraanREPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA - Ketua Mahkamah Agung (MA) Hatta Ali mengatakan tim kecil yang akan merumuskan kesejahteraan hakim, sudah dibentuk dan telah melakukan dua kali pertemuan. "Tim kecil gabungan (MA, KY, kemenkeu, kemenPAN) sudah dibentuk dan sudah melakukan petemuan dua kali bulan ini dan nanti akan dilakukan pertemuan lagi untuk mengetahui sejauh mana gaji yang layak bagi hakim," kata Hatta Ali, di Jakarta, Rabu (25/4).
|
|
|
Written by oval
|
|
Sabtu, 12 Mei 2012 |
Kedubes Saudi Arabia Siap Mendukung Peradilan Agama Jakarta l Badilag.net Kedutaan Besar Saudi Arabia di Indonesia siap mendukung dan memperkuat fungsi serta peran peradilan agama, terutama dalam pengembangan SDM hakim, baik melalui pelatihan-pelatihan maupun hal-hal lain yang diperlukan. Hal itu ditegaskan Abdullah Fahad Alomany, Director of Ambassador Office dari Kedutaan Besar Saudi Arabia, ketika menemui Dirjen Badilag Wahyu Widiana di ruang kerjanya, Kamis (10/5/2012).  Dalam pertemuan ini, Abdullah Fahad Alomany didampingi Abdulkader Mufarh Al-Jabry, staf Departemen Kerjasama Internasional dari Al-Imam Muhammad Ibn Saud Islamic University, dan Ali Al-Qahtany, Protocoler of Ambassador Office dari Kedutaan Besar Saudi Arabia.
|
|
|
Written by oval
|
|
Sabtu, 12 Mei 2012 |
Peduli Orang Miskin, Bukan Omong Kosong * Ibu muda itu, sebut saja Ibu Madhlumah, berpenampilan polos dan lugu. Duduk di ruang tunggu Pengadilan Agama Cianjur, tampak raut mukanya penuh dengan ketertekanan dan kesedihan. Wajahnya yang murung dan memelas membuat saya penasaran ingin sekali ngobrol dengannya untuk mengetahui apa yang sedang terjadi dengan dirinya. Keinginan kuat saya itu bukan karena ingin mengetahui urusan pribadi orang lain. Saya semata-mata ingin tahu masalah apa yang merundungnya selama ini dan bagaimana sampai bisa datang ke pangadilan agama. Di samping itu, tentu saya ingin mengetahui bagaimana perlakuan pengadilan agama kepadanya selama ia berhubungan dengan pengadilan agama. Bu Madhlumah ternyata tidak sendirian. Dia diantar ibunya, yang duduknya agak terpisah, di ruang tunggu PA Cianjur ini. Saya berhasil mendekati dan ngobrol banyak dengan Bu Madhlumah yang belakangan diketahui berasal dari Cianjur Selatan. Daerah ini merupakan salah satu daerah terpencil di wilayah PA Cianjur. Saya minta izin kepada Ketua PA untuk ngobrol-ngobrol dengan yang berperkara, sendirian, tidak didampingi orang PA. “Suami saya suka memukul saya Pak,” kata Bu Madhlumah dengan Bahasa Sunda halus dan kental, setelah ia merasa akrab dengan saya. “Kasihan juga,” kata saya dalam hati.
|
|
|